//
you're reading...
Kisah Islami

Sejarah Hidup Muhammad SAW | Perjalanan ke Hudaibiyah

Berita tentang Muhammad SAW dan rombongannya serta tujuan kepergiannya hendak menunaikan ibadah haji itu sampai juga kepada Quraisy. Timbul rasa khawatir di hati mereka. Mereka menduga kedatangan Rasulullah hanya sebagai suatu tipu muslihat semata. Mereka menganggap Rasulullah hendak menipu supaya dapat memasuki Makkah, karena Quraisy dan golongan Ahzab pernah pula dilarang memasuki Madinah.

Oleh sebab itu, sebuah pasukan tentara yang barisan berkudanya saja terdiri dari 200 orang, segera dikerahkan oleh Quraisy yang pimpinannya diserahkan kepada Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan ini bergerak maju untuk merintangi Rasulullah dan rombongan memasuki kota Makkah. Mereka terus maju hingga bermarkas di Dzu Tuwa.

Sebaliknya, Rasulullah juga meneruskan perjalanan. Sesampai di Usfan—sebuah desa terletak antara Makkah dan Madinah—beliau bertemu dengan seseorang dari suku Bani Ka’ab. Nabi menanyakan kalau-kalau orang itu mengetahui berita-berita tentang Quraisy.

“Mereka sudah mendengar tentang perjalanan tuan ini,” jawabnya. “Lalu mereka berangkat dengan mengenakan pakaian kulit harimau. Mereka berhenti di Dzu Tuwa dan sudah bersumpah bahwa tempat itu sama sekali tidak boleh tuan masuki. Kini Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya terus maju ke Kira’ Al-Ghamim.” Kira’ Al-Ghamim adalah sebuah wadi di depan Usfan, berjarak sekitar 12 kilometer.

“Kasihan Quraisy,” kata Rasulullah. “Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya kalau mereka membiarkan saja kami dengan orang-orang Arab yang lain itu. Kalaupun mereka sampai membinasakanku, itulah yang mereka harapkan. Dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepadaku, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itu pun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang, sebab mereka mempunyai kekuatan. Aku juga akan terus berjuang, demi Allah, atas dasar yang diutuskan Allah kepadaku. Sampai nanti Allah memberikan kemenangan atau sampai leher ini putus terpenggal.”

Beliau kemudian berpikir, apa yang harus dilakukan. Keberangkatannya dari Madinah bukan untuk berperang. Rasulullah hendak memasuki Tanah Suci hanya untuk berziarah ke Baitullah, menunaikan kewajiban kepada Allah.

Sementara tengah menimbang-nimbang, pasukan Quraisy sudah nampak sejauh mata memandang. Sepertinya tiada jalan lagi bagi kaum Muslimin untuk mencapai tujuan, kecuali jika menerobos barisan itu. Dan kalaupun terjadi pertempuran, pihak Quraisy akan mempertahankan kehormatan dan tanah airnya. Suatu pertempuran yang memang tidak diinginkan oleh Rasulullah.

Sungguhpun demikian, pihak Muslimim pun tidak kurang pula semangat pertahanannya. Adakalanya dengan pedang terhunus saja sudah cukup bagi mereka untuk menangkis serangan musuh. Namun dengan demikian tujuan ibadah jadi hilang.

Pandangan Rasulullah ke depan, siasatnya lebih dalam dan lebih matang. Jadi beliau menyerukan kepada orang banyak itu sambil berkata, “Siapa yang dapat membawa kita ke jalan lain daripada tempat mereka sekarang berada?”

Seorang laki-laki kemudian menghadap dan bersedia membawa mereka ke tempat lain dengan melalui jalan berliku-liku antara batu-batu karang yang curam dan sangat sulit dilalui. Kaum Muslimin merasa sangat letih menempuh jalan itu. Namun akhirnya mereka sampai juga di sebuah jalan datar pada ujung wadi. Jalan ini mereka tempuh melalui sebelah kanan yang akhirnya keluar di Thaniah Al-Murar, jalan menurun ke Hudaibiyah di sebelah bawah kota Makkah.

Setelah pasukan Quraisy melihat apa yang dilakukan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, mereka pun cepat-cepat memacu kuda kembali ke tempat semula dengan maksud hendak mempertahankan Makkah bila diserbu oleh pihak Muslimin.

Pada saat kaum Muslimin sampai di Hudaibiyah, Al-Qashwa’—unta kepunyaan Nabi—berlutut. Kaum Muslimin menduga ia sudah terlalu lelah. Tetapi Rasulullah berkata, “Tidak. Ia (unta itu) ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Makkah. Setiap ada ajakan dari Quraisy dengan tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu aku sambut.”

Kemudian Rasulullah meminta orang-orang agar turun dari kendaraan. Tetapi mereka berkata, “Rasulullah, kalaupun kita turun, di lembah ini tak ada air.”

Mendengar itu, beliau mengeluarkan sebuah anak panah dari tabungnya, lalu diberikannya kepada seseorang supaya dibawa turun ke salah satu sumur yang banyak tersebar di tempat itu. Ketika anak panah itu ditancapkan ke dalam pasir pada dasar sumur, seketika itu air pun memancar. Dan seluruh rombongan pun turun dari kendaraan mereka.

Sumber: REPUBLIKA ONLINE

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: