//
you're reading...
Umum

Makna Tekstur Tanah di Balik Keruhnya Air Sungai

air sungaiPernahkah ketika pergi ke luar kita, kita melihat dua sungai yang berbeda tingkat kekeruhannya (air sungai pertama sangat keruh, sedangkan air sungai kedua tidak terlalu keruh)? Bisa saja panjang sungai dari lokasi kita melihat hingga hulunya masing-masing adalah sama. Namun, mengapa bisa terjadi perbedaan tingkat kekeruhan air sungai? Hal tersebut menandakan adanya perbedaan tekstur tanah pada lahan di sekitar hulu daerah sungai (DAS) pertama dan kedua.

Tekstur tanah adalah perbandingan relative tiga fraksi tanah, yakni pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay) yang menyatu dalam satuan massa tanah tertentu pada suatu lahan. Dikatakan perbandingan relative karena persentase fraksi tanah pada lahan yang satu dengan lahan yang lainnya bisa saja memiliki persentase fraksi yang berbeda. Menurut system Internatinal Soil Sceince Society, hal yang membedakan antara fraksi tanah yang satu dengan fraksi tanah yang lainnya dilihat berdasarkan ukuran diameternya, yaitu sebagai berikut:
1. Pasir (sand) berukuran 2,00 – 0,02 milimeter (mm), sehingga ukuran ruang pori antar butir pasir amat besar.
2. Debu (silt) berukuran 0,02 – 0,002 milimeter (mm), sehingga ukuran ruang pori antar butir bedu cukup besar.
3. Liat (clay) berukuran lebih kecil dari 0,002 mililiter (mm), sehingga ukuran ruang pori antar butir lait amat kecil.

Erosi Hulu DAS
Erosi adalah proses pelepasan dan pemindahan massa batuan (termasuk tanah) secara alamiah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya oleh suatu zat tenaga pengangkut, yang bergerak di permukaan bumi (Mamat Ruhimat dan Bambang Utoyo, 2003:54). Berdasarkan pengertian tersebut, maka terdapat dua proses pokok yang berkaitan dengan erosi, yakni pelepasan dan pengangkutan. Pelepasan merupakan proses lepasnya massa batuan (termasuk tanah) dari lokasi asalnya. Pengangkutan merupakan proses berpindahnya massa batuan (termasuk tanah) oleh karena adanya zat tenaga pengangkut, seperti air, angin,atau glister (massa es yang bergerak (Mamat Ruhimat dan bambang Utoto, 2003:56)).

Erosi hulu DAS merupakan erosi yang terjadi di sekitar hulu DAS. Hal tersebut bisa terjadi karena keberadaan air sungai yang senantiasa mengerosi tanah yang ada di sekitar hulu DAS. Kaitan antara erosi hulu DAS dengan tekstur tanah adalah sebagai berikut:
1. Tanah di hulu DAS yang teksturnya mayoritas berfraksi pasir (sand) merupakan tanah yang mudah mengalami pelepasan, tetapi sulit mengalami pengangkutan.
2. Tanah di hulu DAS yang teksturnya mayoritas berfraksi debu (silt) merupakan tanah yang tidak terlalu sulit mengalmi pelepasan maupun pengangkutan, sehingga fraksi tanah ini banyak terlarut dalam air sungai.
3. Tanah di hulu DAS yang teksturnya mayoritas Liat (clay) merupakan tanah yang sulit mengalami pelesapan tetapi mudah mengalami pengangkutan.

Berdasarkan keterangan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut:
1. Lahan di sekitar hulu DAS pertama (air sungainya sangat keruh) tanahnya kemungkinan besar bertekstur debu (silt).
2. Lahan di sekitar hulu DAS kedua (air sungainya tidak terlalu keruh) tanahnya kemungkinan besar bertekstur pasir (sand) atau liat (clay).
3. Lahan di sekitar hulu DAS pertama (air sungainya sangan keruh) merupakan lahan yang tanahnya rawan mengalami erosi, sehingga kurang baik untuk dijadikan sebagai lahan pemukiman. Alangkah baiknya lahan di sekitar hulu DAS pertama dijadikan sebagai wilayah konservasi kawasan cagar alam.
4. Lahan di sekitar hulu DAS kedua (air sungainya tidak terlalu keruh) merupakan lahan yang tanah tidak rawan mengalami erosi sehingga baik untuk dijadikan sebagai lahan pemukiman. Hanya berdasarkan konsep konservasi, lahan di sekitar hulu DAS, lahan di wilayah yang bertopografi terjal lebih baik dijadikan sebagai lahan hutan bervegetasi besar, seperti hutan hujan tropis, daripada dijadikan sebagai lahan pemukiman, agar meminimalisai terjadinya erosi hulu DAS.

Jadi hanya dengan melihat perbedaan tingkat kekeruhan air sungai antar sungai yang satu dan sungai yang lainnya, kita dapat menginterpretasi tekstur tanah di sekitar masing-masing hulu sungai yang kita lihat, apakah bertekstur pasir (sand), debu (silt), atau liat (clay). Hal tersebut berimpliksi terhadap evaluasi kesesuaian lahan, apakah lahan di sekitar hulu DAS layak untuk dijadikan sebagai lahan pemukiman atau tidak.

Sumber: Chandra Adiputra, mahasiswa S-1, Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung/*Pikiran Rakyat*

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: