//
you're reading...
Kisah Islami

Akhir Hidup Wanita Penggoda

INI kisah tentang seorang tabi’im sejati bernama Araabi’ bin Khaitsam. Karena kemuliaannya, banyak orang yang iri dan dengki. Tak heran jika beberapa kali mereka melakukan perbuatan bodoh untuk memfitnah Arrabi’.

Suatu ketika, mereka menggunakan wanita sebagai senjata untuk “menaklukkan” Arrabi’. Mereka mendatangi seorang wanita yang sangat cantik. Mereka menjanjikan hadiah 1.000 dirham jika wanita tersebut berhasil memfitnah Arrabi’ bin Khaitsam. Wanita itu setuju.

Pada waktu yang telah ditentukan, wanita itu mengenakan pakaian terindah, perhiasan mencolok, dan make-up yang aduhai seksi. Tubuhnya pun sudah disemprot parfum terbaik. Dengan kepercayaan diri yang penuh, ia pun menunggu Arrabi’ di sekitar masjid.

Menjelang sore, Arrabi’ tiba di sekitar masjid. Sang wanita segera menggunakan kesempatan itu. Ia menghadang Arrabi’ lalu menggodanya. Tentu saja Arrabi’ terkejut. “Masya Allah,” ucapnya lalu menundukan kepala.

Seketika, pikiran Arrabi’ berkecamuk. Namun, ia segera menyadari kemungkinan bahwa wanita di hadapannya sedang lalai. “Maungking asa iblis berwujud manusia yang sedang menggerakkannya,” ucapnya dalam hati.

Setelah itu, dengan didahului bacaan basmalah. Arrabi’ berkata, “Wahai makhluk indah ciptaan Allah, apa yang akan engkau lakukan seandainya tiba-tiba demam menyerangmu lalu mengubah warna kulit dan keindahan tubuhmu?”

Wajah wanita – yang sebelumnya selalau tersenyum menawan – itu langsung merah padam. Ia kaget luar biasa.

“Apa yang akan engkau lakukan keandainya malaikat pencabut nyawa datang lalu mencabut nyawamu? Bagaiman jika Munkar dan nakir menanyaimu?”

Wanita itu jatuh pingsan.

**

WANITA itu dingatkan kembali kepada Sang Pencipta. Di dalam lubuk hati, ia bertanya kembali tentang siapakah yang telah memberinya kecantikan? Bukankah yang memberinya juga mamapu mengambilnya kembali?

Dia Mahakuasa dan sangat mudah bagi-Nya untuk mengambil segala nikmat yang telah diberikan. Bisa melalui cara halus, seperti penyakit atau usia lanjut yang menyebabkan wajah menjadi keriput. Dapat pula dengan cara kasar, seperti kecelakaan yang dapat menyebabkan rusaknya bagian-bagian tubuh. Bisa juga melalui kematian.

Bukankah kecantikan itu merupakan keindahan yang tak kekal. Cepat atau lambat, cacing-cacing tanah akan memakannya. Jadi, untuk apa berbuat maksiat?

Allah tidak melarang wanita menunjukkan keindahannya kepada suami. Dia pun diperbolehkan berhias untuk suaminya dengan baju terbaik, make-up nomor wahid, dan parfum terbaik. Lantas, mengapa sebagian wanita berhias saat keluar dari rumah dengan menggunakan perhiasan terbaik serta parfum trharum. Sementara untuk suaminya dia tidak berhias meskipun hanya sepertiganya?

Setelah beberpa lama, ia siuman. Ia pun bertobat. Ia menjalani hari-hari selanjutnya dengan rajin beribadah kepada Allah swt. Namun, tak lama kemudian, wanita itu dikabrkan meninggal dunia. Pada hari wafatnya, dia seperti sebatang pohon yang terbakar karena zuhud dan ketekunannya beribadah, menebus segala dosa yang pernah ia lakukan. (menukil dari Khairu-nnisaai-l’aalamiin-Mawaaqif nisaaiyah Masyriqah)

Sumber: Ali Muakhir, Pikiran Rakyat

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: