//
you're reading...
Kisah Islami

Umar Memeluk Islam

Oleh: Yati Nurhayati

PADA suatu hari, Umar berjalan menuju rumah Alarqam bin Abularqam untuk menyerang Rasulullah. Semburat kemarahan tertampak jelas. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki dari Bani Zuhrah.

“Hendak pergi ke mana engkau, wahai Umar? Rasanya aku belum pernah melihat engkau begitu marah dengan menghunus pedang seperti itu” kata lelaki itu.

Umar menjawab, “Aku akan menghabisi Muhammad, seorang yang telah memecah belah persatuan Quraisy, menganggap bodoh pemuka mereka, menghina keyakinan mereka, dan mencaci-maki tuhan-tuhan mereka.

“Demi Allah, kalau begitu, sungguh engkau telah tertipu oleh nafsumu sendiri. apakah engkau kira Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu berjalan di muka bumi dengan tenang setelah engkau membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak kembali saja kepada keluargamu sendiri dan membereskan mereka terlebih dahulu?”

“Ada apa dengan keluargaku?” Umar balik bertanya.

Lelaki itu menjawab, “Ipar sekaligus anak pamanmu, Said bin Zaid bin Amr, dan adik perempuanmu, Fathimah binti Khaththab, telah memeluk Islam dan menjadi pengikut agama Muhammad.

Umar naik pitah. Ia pun mengalihkan tujuannya ke rumah adik dan iparnya. Sesampainya di pintu rumah Fathimah dan hendak masuk, ia mendengar alunan bacaan yang tidak dikenalnya (Alquran). Setelah mendengarkan sebentar, dia pun masuk dan berteriak memanggil adiknya.

“Suara apa yang kudengar tadi?” kata Umar.

“Engkau tidak mendengar apa-apa,” jawab Fathimah.

Umar menjawab. “Demi Allah, telah sampai kepadaku bahwa kalian berdua telah menjadi pengikut agama Muhammad.”

Setelah itu, Umar langsung menghajar Said. Fathimah bangkit untuk menolong suaminya. Namun, ia pun tidak luput dari amarah Umar. Wajahnya ditampar hingga mengeluarkan darah. Mereka berkata, “Benar kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silahkan lakukan apa saja yang kau suka!”

Melihat darah mengalir dari wajah sang adik, Umar merasa menyesal. Ia berkata, “Berikan lembaran yang kau baca tadi agar aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya dibawa Muhammad.

“Kami takut engkau merusaknya,” ucap mereka.

“Jangan takut, aku bersumpah akan mengembalikannya bila aku selesai membacanya,” ujar Umar.

Fathimah berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau masih najis karena kesyirikanmu. Lembaran itu tidak boleh disentuh, kecuali oleh orang yang suci.” Fathimah baru memberikan lembaran itu setelah Umar mandi.

Singkat cerita, Umar pun merasa tertarik dengan kandungan Alquran. Ia pun memutuskan untuk memeluk Islam. Umar keluar dari rumah Fathimah, lalu menemui Rasulullah. (ditukil dari buku “Wanita teladan Istri-isttri, Putri-putri dan Sahabat Wanita Rasulullah” karya Mahmud Mahdi Alistanbudi dan Musthafa Abu Nashr Asysyilbi)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: